Maksiat Mewariskan Kehinaan
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
فَالْمَعْصِيَةُ تُورِثُ الذُّلَّ وَلَا بُدَّ، فَالْعِزُّ كُلُّ الْعِزِّ فِي طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى
"Maksiat pasti mewariskan kehinaan. Dan seluruh kemuliaan hanya ada dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala."
Allah Ta'ala berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا —
"Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka di sisi Allah-lah kemuliaan itu semuanya." (QS. Fathir: 10) — maksudnya: carilah kemuliaan lewat ketaatan kepada Allah, karena ia tak akan pernah ditemukan kecuali di dalamnya.
Di antara doa sebagian salaf:
"اللهم أعزني بطاعتك ولا تذلني بمعصيتك"
"Ya Allah, muliakanlah aku dengan taat kepada-Mu, dan jangan hinakan aku dengan maksiat kepada-Mu."
'Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah bersyair:
رأيت الذنوب تميت القلوب وقد يورث الذل إدمانها وترك الذنوب حياة القلوب وخير لنفسك عصيانها وهل أفسد الدين إلا الملوك وأحبار سوء ورهبانها
"Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati, dan membiasakannya mewariskan kehinaan. Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati, dan lebih baik bagimu membangkang darinya. Tidaklah agama ini dirusak kecuali oleh para penguasa (zalim), ulama buruk, dan ahli ibadah yang menyimpang."
📖 Sumber: Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Al-Jawabul Kafi liman Sa'ala 'anid Dawa'is Syafi (Ad-Da' wad Dawa')
#nasehat2ulama
https://t.me/semangatsubuh